Relakanmu Pergi

Image: Doc. Pribadi
Loc: Pantai Pinomon tiga, Gorontalo

Tiada yang bisa menjamin, kisah cinta yang terjalin hingga bertahun-tahun akan bertahan hingga akhir. Bertemu dipelaminan, menjalani hidup hingga maut memisahkan. Terlebih jika cinta mulai luntur. Memilih bertahan karena tak ingin menyakiti. Ingin pergi tapi tak sanggup meninggalkan. Wahai kasih, cinta itu fitrah. Ia hadir untuk kebahagiaan. 

Olehnya itu, jika hatimu merasa tersiksa, terbelenggu oleh perasaan tak yakin dan ingin menyerah saja, maka pergilah....Aku tak bisa memaksamu untuk tetap tinggal, jika hatimu tak lagi disini.

Tentang perihku, tak usah kau hiraukan. Bukankah bukti cinta tertinggi adalah merelakan ?
Aku tidak ingin bahagia, diatas kepedihan cinta orang lain. Walau bagaiamana pun, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik.
***
Kisah kami bermula ketika aku memberanikan diri, menjalin kasih dengan seorang lelaki untuk pertama kalinya. Saat itu aku sedang duduk di tahun kedua masa kuliah diperantauanku. Lelaki itu bernama Ibnu, ia adalah kakak tingkatku ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA), usia kami terpaut dua tahun. Meskipun kami berasal dari kota kelahiran yang sama, namun semenjak Ibnu lulus SMA kami sudah tidak pernah bertemu lagi karena ia melanjutkan pendidikan di pulau yang berbeda, hingga pada suatu kesempatan kami kembali dipetemukan. Saat itulah Ibnu menyampaikan rasa yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun. Namun, tak seperti lelaki lainnya yang mengajak berpacaran, Ibnu langsung memintaku menjadi istrinya. 

Hal tersebut bukanlah perkara yang mengejutkan bagiku, mengingat usia yang memang sudah memasuki waktu yang tepat untuk menikah dan akupun cukup mengenal Ibnu dengan baik. Namun sebagai tulang punggung keluarga aku masih memiliki sejuta mimpi yang ingin aku wujudkan, apa yang telah tertulis dalam target lima tahunku tidak akan aku langgar karena itu adalah prinsip. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk saling menunggu, Ibnu berjanji tidak akan menghancurkan mimpiku. 

Dalam waktu tiga tahun kami menjalani hubungan jarak jauh, semua berjalan sangat lancar, jarang sekali terjadi konflik diantara kami, begitupun dengan kedua orang tua kami. Orang tua Ibnu sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, hubungan kami sangat dekat hingga pada waktu dimana Ibnu berhasil mendapatkan gelar magisternya, kedua orangtua memintanya untuk segera menikah dan aku belum juga menyelesaikan strata satuku.

Dengan berat hati Ibnu menceritakan masalah tersebut kepadaku, ia merasa bersalah mengingat janji yang pernah ia ucapkan dulu dan sebagai seorang perempuan yang sangat berpegang teguh pada prinsip aku menolak. Mengetahui jawabanku itu, orangtua ibnu merasa sangat kecewa terhadapku dan mengancam jika aku tidak bersedia maka mereka akan menikahkan ibnu dengan wanita pilihan mereka. 

Seketika hatiku hancur, aku harus memilih antara cinta dan prinsip. Ternyata, disinilah takdir cintaku bermula. Ibnu, seorang lelaki yang menurut penilaianku saat itu yang paling sempurna untuk menjadi imam dalam hidupku, akhirnya menikah dengan perempuan lain, semua mimpi yang telah kami bangun bersama runtuh seketika. Perih, pedih, semua menyatu dalam kesedihan disaat harus merelakan seseorang yang begitu kita cintai tanpa adanya masalah sedikitpun dalam hubungan kita. Tetapi seperti itulah kenyataannya, kegagalan cinta pertama yang membuat hatiku jera, tak lagi berhasrat untuk mejalin cinta dengan siapapun. 

Walau begitu, satu hal yang paling ku syukuri dalam pengambilan keputusanku adalah "menempatkan orang tua sebagai prioritas", menjadikan mereka sebagai alasan diatas segalanya. Sehingga, walaupun sakit, perihnya tidak bertahan lama kasih sayang dan semangat dari kedua orangtua kembali membulatkan hati yang semula hancur, menjadikanku lebih bersemangat menjalani hidup, fokus pada mimpi-mimpi, dan terus belajar untuk meningkatkan skill dan kemampuan diri. Masa lalu bersama Ibnu kuanggap sebagai madrasa hati yang membelajarkanku tentang cara mencita, menunggu dan mengikhlaskan, menjadikanku seseorang yang lebih bijak dan lebih kuat saat dipertemukan dengan permasalahan hidup. Perih memang, tapi akan tetap ku kenang hingga akhir, sebagai kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

Ibnu adalah seseorang guru yang dikirim Tuhan untukku belajar tentang rasa, dari jauh aku hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan rumah tangga mereka. dan semoga akupun segera dipertemukan dengan seseorang yang Allah pilihkan untukku, seseorang yang mampu menuntunku tetap berada dalam jalan ridhoNya, sakinah mawaddah, warahma hingga ke Surga-Nya.









Comments